Muhammad Abduh adalah murid utama yang menjabarkan pikiran-pikiran Al-Afghani, setelah Abduh berpisah dari gurunya itu karena hendak meninggalkan bidang politik dan lebih mencurahkan diri kepada bidang keilmuan dan pendidikan. Abduh amat beruntung mendapatkan guru seperti Al-Afghani yang mengajarinya ilmu logika, ilmu kalam, astronomi, metafisika, dan terutama sufisme Isrâqîyah. Setelah Ibn Taimiyah enam abad sebelumnya, Abduh adalah ahli Kalam Sunni yang paling berarti. Seperti Ibn Taimiyah, Abduh mengajukan argumentasi tentang keharusan membuka kembali pintu ijtihad untuk selamanya, dan dengan keras menolak sistem penganutan paham tanpa kritik (taklid). Tetapi, berbeda dari Ibn Taimiyah dan mirip dengan kaum Muktazilah, Abduh seperti halnya al-Afghani melihat pentingnya falsafah dan manfaat mempelajarinya.
Karya-karya Muhammad Abduh adalah yang pertama dalam Kalam Islam dengan pandangan modernistis. Muhammad Abduh pula yang mempelopori pembaruan sistem pendidikan Al-Azhar, antara lain dengan memasukkan mata kuliah Falsafah. Mungkin Abduh kurang berhasil dalam usahanya di bidang pendidikan formal itu, namun ia sangat efektif dalam meniupkan jiwa modernisme di kalangan kaum intelektual Muslim yang sedang tumbuh. Dalam mukaddimah bukunya, Risâlah Al-Tawhîd, sebuah usaha penggarapan baru ilmu kalam, Abduh mencoba menelusuri kembali sejarah pemikiran teologis Islam, disertai penilaian tentang hal-hal yang secara positif ataupun negatif mempengaruhi jalan pikiran kaum Muslimin. Abduh juga mengajukan tawaran tentang bagaimana umat Islam mendapatkan kembali kebenaran agamanya yang telah mengabur itu. Tulisan itu mencerminkan keseluruhan pandangan dan semangat Abduh, sehingga merupakan representasi yang baik bagi modernisme Islam pada pergantian abad yang lalu ini.
Muhammad Abduh beralasan bahwa antara ilmu dan iman tidak mungkin bertentangan, meskipun ia juga mengatakan bahwa keduanya itu berjalan pada tingkatan yang berbeda. Ia berusaha menyajikan ajaran-ajaran dasar Islam dalam suatu kerangka intelektual yang bisa diterima oleh pikiran modern, dan yang sekaligus di satu pihak memungkinkan pembaruannya terus-menerus dan di pihak lain memberi ruang bagi tuntutan ilmu pengetahuan baru. Ia bahkan berargumentasi bahwa Islamlah satu-satunya agama yang dengan konsisten menyeru para pemeluknya untuk menggunakan rasio dan memahami alam. Mungkin tidak ada yang terlalu baru dalam pandangan keagamaan serupa itu; tapi tekanan kuat yang diberikan Abduh kepada segi keserasian antara iman dan akal serta, lebih penting lagi, penyajiannya kembali ajaran dasar Islam yang bakal melapangkan jalan bagi masuknya ide-ide baru itu, telah menawarkan suatu kemajuan penting dalam pemikiran teologis Islam. Dalam kuliah-kuliahnya di Al-Azhar, Abduh sering menggunakan wawasan sejarah Ibn Khaldun untuk menanamkan pada jiwa para mahasiswa semangat independensi dan kebebasan berpikir. Sejalan dengan gurunya, Al-Afghani, Abduh melihat bahwa letak keunggulan agama Islam dibanding dengan agama-agama lain, sebagaimana ditunjang oleh banyak tinjauan yang lebih netral, ialah bahwa dogma-dogma dasarnya dapat sepenuhnya diterangkan secara rasional dan bebas dari berbagai macam misteri.
Ensiklopedi Nurcholish Madjid, Budhy Munawar-Rachman
0 komentar:
Posting Komentar